Dalam narasi sejarah yang populer di Indonesia, Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 lebih sering dipandang semata-mata sebagai kisah sukses Indonesia dalam menggelar sebuah konferensi tingkat dunia. Latar belakang yang kompleks dan perdebatan-perdebatan keras yang berlangsung antar pesertanya justru jarang ditampilkan. Buku ini bermaksud melihat KAA 1955 secara lebih kritis dan komprehensif de…
Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia secara kritis memeriksa apa yang diungkapkan oleh media dan budaya layar tentang cara-cara orang Indonesia yang tinggal di kota berusaha mendefinisikan ulang identitas mereka pada dekade pertama abad ini. Melalui analisis yang kaya nuansa ekspresi dan representasi yang ditemukan dalam budaya layar (bioskop, televisi dan media sosial), …
Tan Malaka (1894-1949) pada tahun 1942 kembali ke Indonesia dengan menggunakan nama samaran sesudah dua puluh tahun mengembara. Ketika itu Jepang sudah menduduki Indonesia. Sebagai revolusioner buangan ia bekerja untuk Komintern (organisasi komunis revolusioner internasional) dan pasca -1927 memimpin partai Repoeblik Indonesia yang ilegal dan dan antikolonial. Karena represi pemerintah Belanda …
Komunitas terbayang adalah konsep yang berbeda dengan komunitas. Komunitas terbayang tidak didasarkan pada interaksi sehari-hari antar anggotanya. Komunitas terbayang adalah konsep yang dicetuskan Benedict Anderson untuk memahami nasionalisme. Anderson percaya bahwa sebuah bangsa adalah komunitas yang dikonstruksi secara sosial, dibayangkan oleh orang-orang yang memandang dirinya sebagai bagian…
HUKUM DAN POLITIK adalah topik yang sangat penting untuk pemikiran filosofis (di) Indonesia. Salah satu simpul yang muncul, pemikiran Indonesia mengenai politik dan hukum sanggup mengadaptasi konsep-konsep dan model-model pemikiran Barat modern, seperti nasionalisme, demokrasi, ketatanegaraan, sekularisme, hak asasi manusia, tetapi adaptasi itu tidak disertai dialektika dan sintesis, melainkan …
Tan Malaka (1894-1949) pada tahun 1942 kembali ke Indonesia dengan menggunakan nama samaran sesudah dua puluh tahun mengembara. Ia tinggal di sebuah kampung kecil di Jakarta dan kemudian bekerja sebagai mandor buruh tambang batu bara di Bayah, Banten Selatan. Pada masa Hindia Belanda ia bekerja untuk Komintern (organisasi komunis revolusioner internasional) dan pasca-1927 memimpin Partai Repoeb…
Tan Malaka (1984-1949) pada tahun 1942 kembali ke Indonesia menggunakan nama samaran sesudah dua puluh tahun mengembara. Pada masa Hindia Belanda ia bekerja untuk Komintren (organisasi komunis revolusioner internasional) dan pasca-1927 memimpin Partai Politik Indonesia yang ilegal dan antikolonial. Ia tidak diberi peranan dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, tokoh Tan Malak…
Tan Malaka (1894-1949) pada tahun 1942 kembali ke Indonesia menggunakan nama samara sesudah 20 tahun mengembara. Pada masa Hindia Belanda, ia bekerja untuk Komintem (organisasi komunis revolusioner internasional) dan sesudah 1927 memimpin Partai Repoeblik Indonesia yang illegal dan antikolonial. ia tidak diberi peranan dalam proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia: Soekarno, Hatta, dan Sjahr…
Mochtar Lubis adalah seorang pemimpin redaksi, pengarang, dan tokoh budaya Indonesia yang paling dikenal, baik di tingkat nasional, regional, maupun internasional, yang ia pertahankan dari awal tahun 1950-an hingga wafatnya tahun 2004. Buku ini menelusuri peristiwa-peristiwa besar dalam jagad kehidupan Mochtar Lubis: seorang tokoh yang memberikan makna pada penafsiran sejarah pascaproklamasi ke…